Adakah yang Salah pada Puasa Kita?
Salahuddin Wahid
Puasa
yang kita jalani setelah dewasa semestinya menjadi puasa seperti yang
seharusnya. Namun, jika kita mau jujur, mutu puasa kebanyakan dari kita selama
ini belum seperti yang diharapkan. Pasti ada yang sudah mencapai mutu seperti
itu, tetapi jumlahnya tidak banyak. Mengapa bisa dikatakan demikian?
Para pejabat (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) yang ibadah mahdhah-nya bagus, perilakunya dalam menyalahgunakan kekuasaan tetap tak berubah. Banyak pengusaha tidak melakukan kegiatan mereka sesuai dengan tuntunan Allah, masih mengurangi panjang/volume, berat atau mutu yang seharusnya diterima pelanggan. Banyak dari kita tidak memenuhi kewajiban dengan penuh dalam berbagai profesi dan tidak menghormati hak orang lain.
Aneka contoh itu menunjukkan kejujuran masih langka, belum menjadi kebiasaan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara meski dalam kehidupan keluarga banyak dari kita sudah melakukannya. Padahal, puasa mendidik kita menjadi jujur. Mengapa kita bisa jujur selama puasa, tetapi tidak bisa jujur dalam 11 bulan lainnya?
Menurut Fukuyama, masyarakat tanpa kejujuran dikenal sebagai low-trust society. Harus diakui, tingkat saling percaya masyarakat kita rendah. Sebaliknya, masyarakat yang dikenal tak religius, tidak menjalani ritual puasa, justru dikenal sebagai high- trust society.
Menurut Corruption Perceptions Index, dari Transparency International’s Report 2005, dari 10 negara peringkat terbawah, lebih dari separuh adalah negara dengan penduduk mayoritas Muslim. Dari 158 negara yang disurvei, peringkat terbaik negara Muslim adalah nomor 29.
Ribuan ceramah serta tulisan ulama dan cendekiawan telah disimak dengan cermat dan penuh perhatian. Banyak ceramah dan tulisan yang bagus dan menyentuh hati. Namun, tampaknya itu belum cukup memengaruhi kita. Mengapa bisa terjadi seperti itu?
Sungguh sulit menjawab pertanyaan itu. Namun, kita harus menjawabnya karena jika tidak, tampaknya kita akan menjalani puasa dengan rutinitas yang telah berjalan puluhan tahun, yang terbukti tak mampu mengubah perilaku keseharian kita.
Apakah kita telah menjalani puasa dengan ikhlas? Apakah kita mampu menahan rasa lapar seperti seharusnya sehingga tidak melampiaskannya pada waktu berbuka puasa? Apakah umat Islam Indonesia sebagai masyarakat telah mampu mengorganisasi kegiatan untuk membantu masyarakat miskin di sekitar kita sehingga mereka bisa makan dengan cukup selama 11 bulan berikutnya? Mengapa masyarakat (non-Islam) di LN bisa mengorganisasi bantuan makanan untuk rakyat miskin di Indonesia?
Apakah dalam perenungan malam hari pada bulan Ramadhan, kita betul-betul mau mawas diri dengan teliti dan "kejam" sehingga menyadari dosa yang telah kita lakukan dan sungguh- sungguh berjanji tak mengulanginya?
Maukah kita bertanya kepada diri sendiri dan secara jujur menjawab, apakah selama ini apa yang kita lakukan dan kita anggap ibadah, kita lakukan dengan betul- betul ikhlas sehingga mempunyai nilai ibadah? Saya yakin ada yang mempertanyakan masalah itu meski jumlahnya tidak banyak.
Saya tak mampu menjawab lengkap pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini. Tulisan ini hanya ingin memicu kita bersama- sama mencari jawaban atas pertanyaan itu.
Menurut saya, kita baru bisa dianggap memenangi puasa setelah mampu meneruskan perilaku kejujuran, kedisiplinan, pengendalian diri, kasih sayang, dan kesabaran yang diperoleh pada bulan puasa dalam kehidupan sehari-hari selama 11 bulan berikutnya setelah Ramadhan.
Kini saatnya mengevaluasi diri, apakah kita memperoleh kemenangan dalam puasa Ramadhan lalu. Jika ternyata belum menang, kita masih mempunyai kesempatan untuk memperbaikinya dalam bulan Ramadhan ini. Semoga Allah memberi kita kesempatan dan kemampuan untuk memperbaiki mutu puasa kita.
Salahuddin Wahid
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang
Masalah kejujuran
Indikatornya adalah kehidupan kita sehari-hari. Masih banyak umat Islam (terutama pemimpin formal atau nonformal dan pejabat) yang berpuasa, tetapi perilaku dalam kehidupan jauh dari tujuan berpuasa. Korupsi masih marak, jual beli perkara tak berkurang, dan kemiskinan menjamur di tengah bumi yang makmur. Kelaparan terjadi di banyak tempat tanpa ada kemampuan umat Islam untuk mengatasinya secara terorganisasi.
Para pejabat (eksekutif, legislatif, dan yudikatif) yang ibadah mahdhah-nya bagus, perilakunya dalam menyalahgunakan kekuasaan tetap tak berubah. Banyak pengusaha tidak melakukan kegiatan mereka sesuai dengan tuntunan Allah, masih mengurangi panjang/volume, berat atau mutu yang seharusnya diterima pelanggan. Banyak dari kita tidak memenuhi kewajiban dengan penuh dalam berbagai profesi dan tidak menghormati hak orang lain.
Aneka contoh itu menunjukkan kejujuran masih langka, belum menjadi kebiasaan dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara meski dalam kehidupan keluarga banyak dari kita sudah melakukannya. Padahal, puasa mendidik kita menjadi jujur. Mengapa kita bisa jujur selama puasa, tetapi tidak bisa jujur dalam 11 bulan lainnya?
Menurut Fukuyama, masyarakat tanpa kejujuran dikenal sebagai low-trust society. Harus diakui, tingkat saling percaya masyarakat kita rendah. Sebaliknya, masyarakat yang dikenal tak religius, tidak menjalani ritual puasa, justru dikenal sebagai high- trust society.
Menurut Corruption Perceptions Index, dari Transparency International’s Report 2005, dari 10 negara peringkat terbawah, lebih dari separuh adalah negara dengan penduduk mayoritas Muslim. Dari 158 negara yang disurvei, peringkat terbaik negara Muslim adalah nomor 29.
Mengevaluasi puasa kita
Puasa mendidik kita mengendalikan nafsu. Banyak dari kita yang berhasil. Mengapa pengendalian nafsu itu (secara umum) hanya bertahan sebulan?
Ribuan ceramah serta tulisan ulama dan cendekiawan telah disimak dengan cermat dan penuh perhatian. Banyak ceramah dan tulisan yang bagus dan menyentuh hati. Namun, tampaknya itu belum cukup memengaruhi kita. Mengapa bisa terjadi seperti itu?
Sungguh sulit menjawab pertanyaan itu. Namun, kita harus menjawabnya karena jika tidak, tampaknya kita akan menjalani puasa dengan rutinitas yang telah berjalan puluhan tahun, yang terbukti tak mampu mengubah perilaku keseharian kita.
Apakah kita telah menjalani puasa dengan ikhlas? Apakah kita mampu menahan rasa lapar seperti seharusnya sehingga tidak melampiaskannya pada waktu berbuka puasa? Apakah umat Islam Indonesia sebagai masyarakat telah mampu mengorganisasi kegiatan untuk membantu masyarakat miskin di sekitar kita sehingga mereka bisa makan dengan cukup selama 11 bulan berikutnya? Mengapa masyarakat (non-Islam) di LN bisa mengorganisasi bantuan makanan untuk rakyat miskin di Indonesia?
Apakah dalam perenungan malam hari pada bulan Ramadhan, kita betul-betul mau mawas diri dengan teliti dan "kejam" sehingga menyadari dosa yang telah kita lakukan dan sungguh- sungguh berjanji tak mengulanginya?
Maukah kita bertanya kepada diri sendiri dan secara jujur menjawab, apakah selama ini apa yang kita lakukan dan kita anggap ibadah, kita lakukan dengan betul- betul ikhlas sehingga mempunyai nilai ibadah? Saya yakin ada yang mempertanyakan masalah itu meski jumlahnya tidak banyak.
Saya tak mampu menjawab lengkap pertanyaan yang menjadi judul tulisan ini. Tulisan ini hanya ingin memicu kita bersama- sama mencari jawaban atas pertanyaan itu.
Menang dalam berpuasa
Banyak penceramah atau mubalig pada minggu terakhir Ramadhan mengajak kita memperoleh kemenangan dalam berpuasa. Menurut saya, kemenangan dalam berpuasa tidak kita peroleh pada akhir bulan Ramadhan. Kalau kita hanya diminta berpuasa yang realitanya lebih bersifat fisik selama sebulan, lalu dianggap menang dalam berpuasa, alangkah mudahnya berpuasa. Tidak heran jika kemudian kita lihat dampak positif puasa Ramadhan terhadap perilaku kita tidak besar.
Menurut saya, kita baru bisa dianggap memenangi puasa setelah mampu meneruskan perilaku kejujuran, kedisiplinan, pengendalian diri, kasih sayang, dan kesabaran yang diperoleh pada bulan puasa dalam kehidupan sehari-hari selama 11 bulan berikutnya setelah Ramadhan.
Kini saatnya mengevaluasi diri, apakah kita memperoleh kemenangan dalam puasa Ramadhan lalu. Jika ternyata belum menang, kita masih mempunyai kesempatan untuk memperbaikinya dalam bulan Ramadhan ini. Semoga Allah memberi kita kesempatan dan kemampuan untuk memperbaiki mutu puasa kita.
Salahuddin Wahid
Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng, Jombang
Karena itu Nabi Muhammad Saw bersabda "Betapa banyak orang yang berpuasa, tapi mereka
tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya itu kecuali lapar dan dahaga." (HR. Ahmad).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar